TANGERANG — Aroma gurih santan beradu wangi bakaran ayam langsung menyergap siapapun yang melintas di Jalan MH. Thamrin, Cikokol, Kota Tangerang. Hanya berjarak sekitar 3 menit berkendara dari kemegahan pusat perbelanjaan Tangcity Mall, sebuah area teduh berbentuk saung-saung kayu menjadi tempat bernaungnya kuliner paling ikonik di Kota Benteng: Kawasan Kuliner Taman Laksa Tangerang.
Tempat ini bukan sekadar pusat jajanan, melainkan rumah bagi para maestro laksa tradisional yang sudah melestarikan resep turun-temurun selama puluhan tahun. Di sinilah tempat terbaik untuk merasakan harmoni rasa antara budaya Tionghoa Peranakan dan lokal yang melebur dalam semangkuk hidangan hangat.
Deretan Penjual Legendaris: Dari Bang Kumis Bewok hingga Bang Tubing
Masuk ke dalam area taman yang rindang, pengunjung akan disambut oleh deretan gerobak pikulan kayu tradisional yang rapi. Masing-masing penjual memiliki papan nama kayu sebagai penanda jati diri mereka. Di antara sekian banyak lapak, ada beberapa nama yang menjadi favorit utama para pencinta kuliner:
- Laksa Bang Kumis Bewok (Dikelola oleh Pak Atin): Salah satu maestro paling senior yang racikannya selalu diburu pelanggan. Tangan Pak Atin begitu lincah menarik mi laksa dari bakul bambu sebelum menyiramnya dengan kuah dari gentong tanah liat.
- Laksa Bang Tubing: Lapak yang terkenal dengan porsinya yang melimpah dan kekhasan rasa kuahnya yang begitu pekat.
- Laksa Kang Didin: Menawarkan cita rasa bumbu warisan orang tua yang tidak pernah diubah sedikit pun sejak dahulu kala.
“Resep kami asli dari orang tua dan bahannya tidak ada yang dikurangi atau diganti demi menjaga ciri khas rasa yang sudah dikenal langganan sejak dulu,” ujar Kang Didin sembari menyiapkan pesanan pembeli.
Karakteristik Unik Laksa Tangerang: Mi Beras dan Parutan Kelapa Sangrai
Bagi yang belum tahu, Laksa Tangerang memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari laksa daerah lain. Perbedaan mendasar tersebut langsung terlihat dari dua elemen utamanya:
- Mi Tepung Beras Autentik: Mi yang digunakan tidak seperti mi kuning atau bihun biasa. Mereka menggunakan mi putih tebal dari tepung beras murni yang teksturnya kenyal namun lembut saat dikunyah. Uniknya, mi ini dipotong pendek-pendek sehingga Anda bisa menyantapnya dengan mudah cukup menggunakan sendok.
- Kuah Santan Bertabur Kelapa Sangrai: Kuah kuning kental berbumbu kunyit, jahe, dan ketumbar ini dimasak di dalam gentong tanah liat tradisional. Sebelum disajikan, kuah ditaburi dengan kacang hijau rebus yang empuk, daun kucai segar, dan parutan kelapa sangrai (serundeng). Kelapa sangrai inilah yang memberikan tekstur sedikit kasar dan rasa gurih manis yang khas di lidah.
Untuk lauk pelengkapnya, pengunjung bisa memilih sepotong tahu kulit yang menyerap kuah bagaikan spons, telur rebus, hingga potongan Ayam Kampung Bakar yang bumbunya meresap sampai ke serat daging terdalam.
Kuliner Merakyat dengan Harga Terjangkau
Meskipun lokasinya berada di tengah pusat kota yang kian modern, harga sepiring Laksa Tangerang di taman ini tetap ramah di kantong.
- Laksa Polos: Dibanderol mulai dari Rp 10.000 – Rp 12.000 per porsi.
- Laksa + Telur / Tahu: Berkisar antara Rp 15.000 – Rp 23.000.
- Laksa Spesial Komplit (Ayam Kampung & Telur): Hanya sekitar Rp 30.000 – Rp 40.000 saja.
Sebagai pencuci mulut dan penetralisir rasa gurih, saung-saung di sini juga menyediakan kelapa muda segar utuh serta jajanan tradisional seperti es selendang mayang.
Taman Laksa Tangerang beroperasi dari pagi hari hingga tengah malam, menjadikannya opsi sempurna baik untuk makan siang santai di tengah jam kantor, maupun tempat nongkrong kuliner malam yang syahdu selepas lelah berbelanja di Tangcity Mall. Sebuah bukti nyata bahwa di tengah gempuran kuliner modern, rasa autentik dari sebuah tradisi tidak akan pernah kehilangan tempat di hati masyarakat.




Leave a Reply